EXSPOST.ID — Sebuah potret perjuangan sekaligus kritik terhadap pembangunan infrastruktur terjadi di Dusun 1 Sukaraja, Desa Sukaraja, Kecamatan Palas. Di tengah gencarnya narasi “ketahanan pangan” di tingkat nasional, para petani di wilayah ini justru harus berjuang mandiri demi menjaga akses ekonomi mereka.
Lelah menghadapi jembatan bambu yang kerap hanyut setiap musim hujan, para petani menunjukkan kekuatan gotong royong. Selama tiga tahun terakhir, mereka secara konsisten menyisihkan sebagian hasil panen hingga berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp50 juta untuk membangun jembatan yang lebih layak.
Bagi petani seperti Eko, musim hujan bukan hanya membawa berkah bagi tanaman, tetapi juga ancaman serius bagi akses distribusi hasil pertanian.
“Setiap mau panen, kami harus memperbaiki jembatan bambu. Kalau banjir, bisa sampai dua kali jembatan itu hanyut terbawa arus,” ujarnya.
Akses tersebut menjadi urat nadi bagi sekitar 200 hektare lahan persawahan dan perkebunan. Tanpa jembatan yang memadai, proses distribusi hasil panen kerap terhambat, bahkan berpotensi merugikan petani.
Kesadaran akan pentingnya akses itu mendorong para petani mengambil langkah tegas. Mereka sepakat membangun jembatan secara swadaya dengan prinsip, “Kalau bukan kita, siapa lagi?”
Meski demikian, dana Rp50 juta yang telah terkumpul masih belum mencukupi untuk pembangunan jembatan permanen. Seluruh biaya yang ada murni berasal dari kontribusi para petani yang setiap hari bergantung pada jalur tersebut.
Kondisi ini menjadi ironi, mengingat kawasan tersebut merupakan salah satu lumbung pangan di Kecamatan Palas. Minimnya infrastruktur dasar dinilai turut memengaruhi efisiensi distribusi, yang pada akhirnya berdampak pada stabilitas harga pangan di masyarakat.
Saat ini, pembangunan jembatan swadaya masih terus berjalan. Para petani tetap membuka ruang bagi pihak mana pun yang ingin membantu, sembari menyampaikan pesan tersirat bahwa pembangunan infrastruktur dasar seharusnya menjadi tanggung jawab bersama, terutama pemerintah sebagai pemangku kebijakan.











